Pertanggungan Jawaban Kita Untuk Masa Depan

Catatan: Buat yang malas baca, nanti juga ada versi video dari blog ini!
Satu hari terakhir ini gue mikir bagaimana bisa menjawab pertanyaan dari seseorang yang reply ke gue begini. Dan pagi ini di meja makan, gue menemukan jawabannya saat orang tua menyatakan kekhawatiran mereka terhadap masa depan gue dan adik gue dengan kondisi seperti sekarang, takut bahwa anak dan cucu mereka tidak akan mendapatkan kehidupan sebaik mereka.
Udah ikhlas kok kalau memang enggak bakal bisa, tapi yang penting jangan sampai kalau punya anak harus hidup dengan kondisi seperti ini.
Dan saat itulah, everything clicks. Ini bukan hanya soal apa yang bisa kita lakukan sekarang, tapi juga soal konsekuensi apa yang siap kita tanggung dengan penuh kesadaran. Konsekuensi yang jarang sekali dibahas, dan banyak dari kita takut untuk mengakui bahwa hal itu ada dan nyata.
Sekarang saatnya kita berandai, 2029 nanti ternyata yang menang adalah kubu politik yang ingin menghentikan program-program pemerintahan sekarang. Menghentikan MBG, menghentikan KDMP, memecah kembali BUMN agar tidak semuanya dalam satu keranjang seperti Danantara sekarang, dan mengembalikan ruang fiskal yang kita miliki.
Apakah konsekuensi langsung dari kebijakan-kebijakan tersebut akan menghilang begitu saja? Tentu saja tidak. Ada bangunan yang terbengkalai, aset dan inventaris yang perlu dialihfungsikan atau segera dimanfaatkan karena akan membusuk, dan jutaan orang Indonesia yang akan kehilangan lapangan pekerjaan mereka. Dan itu baru konsekuensi langsung.
Belum konsekuensi tidak langsung dari kebijakan-kebijakan tersebut.
Bagaimana dengan dampak ketiadaan anggaran dan peran pemerintah pusat dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan NTT sehingga pemulihan infrastruktur dasar di sana tidak dapat terealisasikan dengan cepat?
Atau ketidakseriusan dan ketiadaan kesiapan dan kesigapan dalam menangani kebakaran hutan di Kalimantan?
Dan bagaimana nasib tenaga guru honorer, PPPK, atau bahkan ASN yang tidak mendapatkan upah mereka karena anggaran kita terfokuskan dan terserap oleh MBG dan KDMP sehingga harus berutang, baik ke sanak keluarga maupun pinjol?
Semua yang gue sebut di atas itu adalah konsekuensi, dan ini semua bersifat jangka panjang. Akan ada banyak warga Kalimantan yang sakit ISPA seumur hidup mereka, menurunkan kualitas hidup, angka ekspektasi hidup, dan produktivitas mereka. Masih banyak warga di Aceh, Sumatera Utara, dan NTT yang secara sosioekonomi jatuh dan tidak dapat bangkit kembali karena masih tidak memiliki atap permanen di atas kepala mereka saat ingin beristirahat pada malam hari. Dan akan banyak warga Indonesia yang harus membayar bunga pinjaman online yang highly toxic.
Apakah kita siap untuk menanggung konsekuensi tersebut apabila kita menang dan diberikan amanah untuk memimpin?
Karena itu baru secuil konsekuensi dari ketidakbijakan pemerintahan kita sekarang. Dan ini bukan jenis masalah yang bisa terselesaikan secara instan sebagaimana program-program Prabowo dipaksakan untuk berjalan secara instan. Kita berbicara soal masalah yang mungkin tidak akan selesai dalam satu atau dua periode pemerintahan.
Apakah siap untuk menjadi seseorang yang menanam benih untuk pohon yang kerindangannya tidak akan melindungimu dari terik matahari, tapi melindungi anak dan cucumu? Apakah siap untuk melihat matahari bersinar terang di bumi Indonesia di hari senjamu?
Kalau jawabanmu atas pertanyaan di atas adalah tidak, maka mungkin aktif secara politik bukan untuk kamu. Sorry not sorry. Kita enggak bisa cuma mikirin keselamatan diri kita sendiri, karena kita (dalam artian generasi yang mencapai kedewasaan pada masa pemerintahan Prabowo) hanya bisa menyelamatkan generasi yang akan mengambil tempat kita di masa mendatang.
Dan kalau jawabanmu atas pertanyaan diatas adalah iya, maka gue punya pertanyaan kedua buat kamu.
Gimana lu bisa menjual agenda perubahan ini ke masyarakat?
Bagian ini lebih ke gagasan politik pribadi dan curhatan pribadi aja. Iya, kita (yang berada di kubu oposisi) semuanya tahu kok MBG itu jelek, KDMP itu jelek. Kita perlu ganti Presiden, perlu ada gerakan atau partai politik yang dapat mendorong agenda yang kita mau.
Tapi kan buat semua itu, perlu massa. Perlu dukungan rakyat. Perlu orang-orang buat berubah pikiran dan bergumam "eh iya bener juga ya."
Dan cuma bilang "MBG jelek!" atau menghina pegawai SPPG enggak bakal cukup. Malah justru kontraproduktif karena itu akan dijadikan narasi kubu Prabowo atau kubu yang ingin mendorong keberlanjutan kebijakan Prabowo dan Jokowi.
"Lihat tuh oposisi, mereka enggak mau Indonesia hebat! Enggak mau rakyatnya punya pekerjaan! Enggak mau anak-anak dapat makanan bergizi di sekolah!"
Dan kalau mereka terbuai oleh retorika tersebut karena kehidupan mereka tergantung pada eksistensi MBG dan KDMP, karena mereka senang anak mereka dapat makan di sekolah. Ya udah, kita kalah.
Tapi untungnya, kita punya waktu dua tahun atau tujuh bulan, tergantung keputusan MSCI apakah menurunkan Indonesia ke standalone market beneran terjadi atau enggak. Kita masih dianugerahi waktu untuk berorganisasi, konsolidasi, dan memikirkan pesan apa yang ingin kita dorong dan beneran disiplin pada pesan itu.
Kita masih diberi waktu untuk mengubah cara pikir. Dari yang sebelumnya marah-marah aja, jadi lebih mengedepankan perspektif pro-rakyat, dan pro-kelas pekerja, tanpa pandang bulu.
Kita masih diberi waktu untuk mendengarkan para ahli, untuk belajar, untuk banyak membaca, untuk mencoba mengulik apa permasalahan yang dirasakan oleh orang-orang di lingkungan sekitar kita. Teman-teman kita, kolega, pedagang di pasar, tukang gorengan langganan, driver ojek yang mengantarkan kita dari kosan ke stasiun KRL.
Kita masih diberi waktu untuk melawan rasa takut yang ada dalam diri kita, untuk terlibat langsung dan berorganisasi dengan kawan-kawan yang fokus dengan agenda yang kamu ingin dorong. Bahkan kalau cuma masih sebatas sebagai orang yang meramaikan diskusi atau forum yang ada.
Ini yang bisa kita lakukan. Sekarang. Anjir, mulai besok kalau perlu.
(Dan enggak, gue enggak hitung bulan puasa dan lebaran sebagai bulan produktif secara politik, makanya gue bilang tujuh bulan dan bukan delapan bulan.)
Karena gue yakin di luar sana, di ruang-ruang pembicaraan yang gue enggak tahu dan enggak terlibat (karena ya siapa coba yang mau anggap vtuber secara serius), pasti sudah ada dan sudah mulai ada pembicaraan terkait ini. Gimana framing-nya, gimana jual-nya.
So let me propose one source of truth.

(Yes I made this in 5 minutes, shut up.)
Kalau ada satu permintaan gue, sebagai orang yang entah kenapa bisa punya platform atau diberi pertanyaan di atas, maka ini adalah permintaan tersebut. Gue mau disaat kalian omongin isu politik dengan keluarga atau teman, kalian pakai framing itu.
Lagi omongin MBG?
Bahas bagaimana pemerintah gagal untuk memberikan pegawai SPPG hidup yang layak dan bermartabat, karena pekerjaan dan penghidupan mereka jadi terikat dengan politik transaksional yang akan memaksa mereka untuk berpihak pada keberlanjutan. Bagaimana relasi kerja antara pegawai SPPG dengan pemerintah itu tidak seimbang, dan menyerupai petani yang harus bekerja dengan juragan tanah.
Gimana kalau juragan tanahnya bosan dan merasa rugi? Atau nanti anak cucu mereka mau jual tanahnya? Apakah adil untuk mereka kehilangan pekerjaan karena tergantung pada ego dan kemauan satu atau sekelompok elit politik saja?
Pemerintah punya tanggung jawab untuk membuka lapangan pekerjaan yang tidak terikat dengan kontrak politik transaksional, yang dapat memberikan kepastian kerja jangka panjang tanpa takut terancam oleh "ganti Presiden." Dan dalam hal ini mereka gagal. Pegawai SPPG, persetan dengan opini moral pribadi lu terhadap mereka, juga warga negara Indonesia dan mereka berhak untuk mendapatkan hidup yang layak dan bermartabat.
Lagi omongin soal kebakaran hutan di Kalimantan?
Tekankan bahwa pemerintah gagal untuk menjamin hidup yang layak dan bermartabat untuk semua warga Kalimantan yang terdampak. Bahwa ekspansi pengelolaan sumber daya di Indonesia demi kepentingan bangsa tidak boleh mengingkari penegakan aturan lingkungan hidup, karena lingkungan yang terjaga adalah lingkungan yang dapat menjamin hidup layak.
Anak-anak di Kalimantan berhak mendapatkan udara bersih yang memperbolehkan mereka untuk ke sekolah dan bermain bersama teman-teman mereka. Orang-orang yang memiliki pernapasan rentan seperti asma atau gampang alergi yang tinggal di Kalimantan berhak untuk dapat beraktivitas selayaknya bagaimana kita di pulau Jawa dapat beraktivitas. Setiap detik, setiap jam, dan setiap hari pemerintah tidak becus untuk berkomitmen untuk menangani bencana kebakaran, dan untuk mencegah hal ini terjadi kembali di masa mendatang dengan penegakan aturan yang konsisten dan berkeadilan, maka kehidupan yang layak dan bermartabat tidak dapat tercapai.
Gue bisa jabarin lebih lanjut, tapi nanti jadi manifesto politik beneran dan gue enggak yakin orang-orang mau dengerin atau baca manifesto politik dari vtuber. Tapi gue harap lu paham maksud gue; satu suara, satu pesan inti. Kita enggak bisa terpecah-pecah karena kubu petahana, yang menginginkan keberlanjutan, akan memiliki satu pesan inti dan satu suara, suara yang memiliki jangkauan amplifikasi lebih jauh dibanding pihak oposisi.
Dan banyak cara untuk mengasah ini semua jadi satu suara.
Ikut organisasi. Ikut kelompok diskusi. Dengerin orang yang ahli (beneran ahli, bukan yang kemarin bikin paper bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia tapi ternyata sitasinya halusinasi Claude semua). Belajar dan baca teori serta ideologi politik biar lu punya prinsip yang jelas. Cari wadah atau komunitas yang memperbolehkan lu untuk mengekspresikan gagasan-gagasan tersebut dengan aman. Bantu lingkungan sekitar lu. Jangan pernah pesimis bahkan disaat situasinya hancur kayak begini. Masuk partai politik bila kamu rasa siap dan perlu.
Sampaikan gagasan bahwa semua orang Indonesia berhak hidup layak dan bermartabat. Kita punya dua tahun atau tujuh bulan. Selama masih ada waktu, maka masih ada kesempatan untuk bergerak dengan cara yang bisa kita lakukan, selama tujuannya adalah mendorong agenda politik perubahan yang jelas dan terarah.
Karena ini satu-satunya kesempatan kita.